6 Maret 2026 – Hamilton, Kanada – Misi tetap Iran untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa menolak klaim yang menyebut negara tersebut menutup Selat Hormuz. Dalam pernyataan resmi yang dipublikasikan melalui media sosial, Iran menyatakan tuduhan tersebut “tidak berdasar dan tidak masuk akal,” sekaligus menekankan komitmen mereka terhadap hukum internasional dan kebebasan navigasi.

Dalam pernyataan yang sama, Iran menuduh Amerika Serikat telah membahayakan keselamatan pelayaran di kawasan. Fregat Dena, yang saat itu tengah mengunjungi India sebagai bagian dari latihan angkatan laut dengan 130 pelaut di dalamnya, disebut Iran telah dihantam oleh kapal selam AS “di perairan internasional, tanpa peringatan,” sekitar 2.000 mil dari pantai Iran. Insiden ini dikabarkan menewaskan lebih dari 100 pelaut, dengan 32 lainnya terluka dan sejumlah personel dinyatakan hilang.

Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyebut serangan itu terjadi di lepas pantai Sri Lanka. Kapal perang tersebut sedang dalam perjalanan pulang setelah berpartisipasi dalam latihan militer di perairan India bulan lalu.

Insiden ini terjadi di tengah eskalasi ketegangan yang melibatkan serangan militer Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran, yang dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 926 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dan sejumlah pejabat militer senior. Sebagai respons, Iran disebut telah melancarkan serangan menggunakan pesawat tak berawak dan rudal, menargetkan Israel serta fasilitas militer di negara-negara Teluk yang menampung aset AS.

Klaim Iran dan tuduhan terhadap AS ini menyoroti risiko yang terus meningkat terhadap keamanan pelayaran internasional di wilayah strategis. Pihak internasional terus memantau situasi, sementara komunitas global menyerukan de-eskalasi dan dialog untuk menjaga stabilitas kawasan.