Harga minyak mentah dunia melonjak tajam pada perdagangan Senin, mencapai hampir 7%, seiring meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran. Lonjakan ini dipicu oleh serangan terhadap kapal komersial di Selat Hormuz, jalur pelayaran strategis bagi distribusi energi global.

Harga minyak WTI untuk pengiriman Mei ditutup di USD 89,61 per barel, sementara Brent untuk pengiriman Juni naik ke USD 95,48 per barel. Kenaikan ini mencerminkan kekhawatiran pasar akan potensi gangguan pasokan minyak global, mengingat Selat Hormuz menjadi jalur utama ekspor minyak dari Timur Tengah.

Ketegangan meningkat setelah Angkatan Laut AS menembaki kapal kontainer Iran di Teluk Oman. Presiden Donald Trump menyatakan kapal tersebut mencoba menerobos blokade laut AS terhadap Iran. Aksi ini menyusul serangan Iran terhadap kapal tanker di Selat Hormuz sebelumnya, yang menimbulkan kekhawatiran atas keamanan pengiriman energi global.

Kepala strategi komoditas ING, Warren Patterson, mengatakan bahwa pasar minyak kembali terombang-ambing akibat eskalasi yang cepat. “Apa yang tampak sebagai de-eskalasi dengan cepat berubah menjadi eskalasi kembali,” ujarnya.

Situasi semakin memanas ketika Presiden Trump mengancam akan menghancurkan infrastruktur vital Iran jika negara tersebut tidak menyepakati kesepakatan dengan AS. Sementara itu, Iran tetap menegaskan penutupan Selat Hormuz sampai blokade laut dicabut.

Lonjakan harga minyak ini tidak hanya berdampak pada perdagangan internasional, tetapi juga berpotensi mempengaruhi harga bahan bakar di pasar domestik. Jika ketegangan berlanjut, pasar energi global diperkirakan akan tetap dalam kondisi waspada tinggi, dan volatilitas harga minyak kemungkinan akan terus berlanjut.