Banjir seringkali membawa dampak negatif bagi masyarakat, mulai dari kemacetan hingga kerugian materi. Namun di balik kondisi tersebut, ada juga yang mampu melihat peluang. Hal inilah yang dilakukan Agus, warga Kembangan Selatan, Jakarta Barat.

Ketika banjir melumpuhkan Jalan Kembangan Raya, Agus justru memanfaatkannya sebagai ladang penghasilan. Bersama rekannya, ia membuka jasa angkut menggunakan gerobak untuk membantu warga dan pengendara melintasi genangan air.

Sejak pukul 07.00 WIB, Agus sudah bersiaga di lokasi. Dengan tarif Rp20.000 per orang atau sepeda motor, jasanya cukup diminati. Dalam waktu sekitar tiga jam saja, ia berhasil mengantongi pendapatan hingga Rp800 ribu.

Gerobak yang digunakan berukuran sekitar 50 x 100 cm, cukup untuk mengangkut satu sepeda motor beserta pengendaranya. Agus bertugas menarik dari depan, sementara rekannya mendorong dari belakang agar gerobak tetap stabil saat melewati banjir.

Fenomena ini bukan hal baru di kawasan tersebut. Menurut Agus, biasanya ada sekitar lima gerobak yang beroperasi setiap kali banjir melanda. Hal ini bahkan sudah menjadi semacam “ciri khas” warga setempat dalam menghadapi kondisi darurat.

Di sisi lain, banjir setinggi sekitar 60 cm menyebabkan ratusan kendaraan mogok dan kemacetan parah di kawasan tersebut. Banyak pengendara yang terjebak dan akhirnya membutuhkan bantuan seperti yang ditawarkan Agus.

Kisah ini menunjukkan bahwa dalam situasi sulit sekalipun, selalu ada peluang bagi mereka yang sigap dan kreatif. Meski banjir tetap menjadi masalah serius yang perlu ditangani, respons cepat seperti yang dilakukan Agus menjadi contoh adaptasi di tengah keterbatasan.