Kasus hantavirus di kapal pesiar MV Hondius menjadi perhatian dunia internasional setelah sejumlah penumpang dilaporkan terinfeksi saat perjalanan dari Argentina menuju Afrika Barat. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat beberapa kasus dengan dugaan infeksi yang menyebabkan korban jiwa.

Peristiwa ini membuat masyarakat mulai mencari tahu tentang hantavirus, mulai dari asal-usul, cara penularan, hingga seberapa berbahaya virus tersebut bagi manusia.

Apa Itu Hantavirus?

Hantavirus adalah virus zoonosis, yaitu penyakit yang menular dari hewan ke manusia. Virus ini pertama kali diidentifikasi di Korea Selatan pada tahun 1976 dan namanya diambil dari Sungai Hantaan.

Penularan hantavirus umumnya berasal dari tikus atau hewan pengerat lain yang terinfeksi. Manusia dapat tertular melalui paparan urine, air liur, atau kotoran tikus yang mengering lalu terhirup melalui udara.

Bagaimana Penularannya?

Berbeda dengan COVID-19 atau influenza, hantavirus tidak mudah menular antar manusia. Penularan biasanya terjadi karena lingkungan yang telah terkontaminasi oleh tikus.

Risiko lebih tinggi ditemukan di area dengan sanitasi buruk, gudang tertutup, kapal, atau tempat dengan populasi tikus yang tinggi.

Gejala Hantavirus

Gejala awal hantavirus sering menyerupai flu biasa, seperti:

  • Demam
  • Nyeri otot
  • Sakit kepala
  • Tubuh lemas
  • Mual dan muntah

Namun dalam beberapa hari, kondisi pasien dapat memburuk dengan cepat dan menyebabkan gangguan pernapasan serius.

Bisa Menyebabkan Gagal Napas

Pada kasus berat, hantavirus dapat memicu Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS), yaitu kondisi ketika paru-paru mengalami peradangan parah sehingga tubuh kekurangan oksigen.

Pasien dengan kondisi ini biasanya membutuhkan bantuan ventilator dan penanganan intensif di rumah sakit.

Tingkat Kematian Hantavirus

Hantavirus termasuk penyakit dengan tingkat kematian cukup tinggi. Beberapa laporan menyebut fatality rate dapat mencapai sekitar 40 persen pada kasus tertentu yang tidak ditangani dengan cepat.

Karena itu, deteksi dini dan penanganan medis menjadi faktor penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan pasien.

Respons Pemerintah dan WHO

Kementerian Kesehatan RI telah berkoordinasi dengan WHO untuk mempersiapkan langkah antisipasi, termasuk sistem skrining dan pemeriksaan laboratorium menggunakan PCR.

Meski kasus saat ini masih terkonsentrasi di kapal pesiar MV Hondius, pemerintah tetap meningkatkan pengawasan untuk mencegah penyebaran lebih luas.

Kesimpulan

Hantavirus memang bukan virus baru, namun kasus di MV Hondius kembali mengingatkan pentingnya menjaga kebersihan lingkungan dan menghindari paparan tikus liar. Walau tidak mudah menular antar manusia, virus ini tetap berbahaya karena dapat berkembang cepat dan menyebabkan gagal napas akut.