Ayah Nur Ainia Eka Rahmadhyna, Hary Marwata, mengenang komunikasi terakhir dengan putrinya pada Senin sore. Seperti biasa, Ain sempat diminta dijemput setelah pulang kerja, sebuah kebiasaan rutin yang sudah berlangsung lama.
Malam itu, Ain tidak kunjung pulang, dan keluarga sempat kesulitan melacak keberadaannya karena ponsel tertinggal di lokasi kecelakaan. Selama bekerja, Ain dikenal menggunakan KRL dan lebih memilih gerbong khusus perempuan.
Di mata keluarga, Ain adalah sosok sederhana, penurut, dan jarang keluar rumah setelah bekerja. Ia bahkan turut membantu perekonomian keluarga. Momen terakhir yang diingat sang ayah adalah saat Ain menyiapkan bekal sendiri sebelum berangkat kerja pada Senin pagi.
Pencarian Ain sempat membuat keluarga kebingungan, hingga akhirnya identitasnya dikonfirmasi di RS Polri Kramat Jati melalui KTP dan sidik jari. Kini, keluarga tengah berusaha menerima kenyataan pahit atas kepergian putri tercinta.