Pelaksanaan Olimpiade Sains Nasional (OSN) tingkat Sekolah Dasar yang digelar serentak pada Senin, 8 Juni 2026, menyisakan cerita pilu. Harapan besar seorang siswi berprestasi asal Kabupaten Sukabumi untuk meraih medali akademik harus pupus di tengah jalan akibat insiden pemadaman listrik secara mendadak.

Peristiwa menyedihkan ini menimpa Nadya Putrinda Paramitha, siswi SD Negeri Gandasoli, Kecamatan Cireunghas. Video yang merekam tangis histeris Nadya seusai keluar dari ruang ujian kini viral di media sosial dan memicu rasa prihatin yang mendalam dari netizen.

Kronologi Kejadian: Komputer Membeku di Tengah Ujian

Menurut Isop Sopiah, Pengawas OSN di SDN Gandasoli, gangguan teknis mulai terjadi saat ujian memasuki sesi ketiga untuk mata pelajaran IPS. Di tengah konsentrasi tinggi para peserta, layar komputer mendadak membeku (ngefreeze).

“Awalnya ada murid bilang ngefreeze, kemudian sempat logout sendiri lalu login kembali,” ungkap Isop pada Rabu (10/6/2026).

Tak lama berselang, suasana ruang ujian berubah tegang ketika seluruh perangkat komputer dan lampu di sekolah mati total. Pihak sekolah sempat menahan siswa di dalam ruangan dengan harapan listrik segera menyala, namun hingga sesi ujian habis, pasokan daya tidak kunjung pulih.

Meskipun panitia telah memberikan kompensasi kelonggaran waktu hingga melewati pukul 14.00 WIB, ujian terpaksa diakhiri secara sepihak karena kondisi yang tidak memungkinkan. Kekecewaan pun mendalam lantaran pihak sekolah mengaku tidak ada koordinasi atau surat edaran apa pun dari pihak penyedia layanan listrik terkait pemadaman tersebut.

Kekecewaan Mendalam Nadya

Kegagalan sistemis ini menjadi pukulan berat bagi mental Nadya. Gadis kecil ini telah mengorbankan waktu bermainnya selama berbulan-bulan demi menjalani pembinaan intensif yang menguras energi.

Padahal, sebelum gangguan terjadi, Nadya sedang berada di atas angin karena telah berhasil menjawab sekitar 40 dari total 60 soal dengan lancar. Ketenangannya hancur saat menyadari waktu pengerjaan terus berjalan di tengah kondisi komputer yang mati.

“Pas denger waktu yang tersisa untuk mengerjakan soal tinggal 15 menit lagi tuh saya agak gelisah,” ucap Nadya mengingat kepanikannya saat itu.

Berharap Ada Ujian Susulan

Ketika waktu resmi habis dan sekolah masih gelap gulita, Nadya akhirnya pulang dengan air mata yang terus mengalir. Meski hatinya hancur, ia mencoba tegar dan berharap ada keadilan berupa ujian susulan bagi dirinya dan dua rekan lain yang terdampak.

“Maunya mah saya OSN diulang. Tapi ya gimana lagi, kalau enggak bisa ya sudah saya ikhlaskan saja,” ungkapnya pasrah.