Nilai tukar rupiah kembali berada di bawah tekanan dan semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS). Pada perdagangan Kamis (4/6/2026), dolar AS sempat menyentuh kisaran Rp18.000, sementara para analis memperkirakan pergerakannya berada di rentang Rp17.960 hingga Rp18.030 per dolar AS.

Pelemahan rupiah ini menjadi perhatian pelaku pasar karena terjadi di tengah berbagai sentimen global dan domestik yang memengaruhi pergerakan mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia.

Faktor Global Tekan Rupiah

Salah satu penyebab utama melemahnya rupiah berasal dari meningkatnya ketidakpastian global. Konflik geopolitik di Timur Tengah kembali memanas setelah operasi militer di Lebanon selatan berlanjut dan ketegangan antara Iran dengan sejumlah negara di kawasan meningkat.

Kondisi tersebut mendorong kenaikan harga minyak dunia yang memicu kekhawatiran terhadap inflasi global. Akibatnya, investor memperkirakan bank sentral AS atau The Fed akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama dari yang sebelumnya diperkirakan.

Selain itu, data ekonomi AS yang masih kuat turut memperkuat posisi dolar AS. Laporan terbaru menunjukkan jumlah lowongan pekerjaan di AS meningkat di luar ekspektasi pasar, sehingga memperkuat keyakinan bahwa ekonomi Negeri Paman Sam masih cukup solid.

Pelaku pasar kini menantikan sejumlah data penting AS, termasuk laporan ketenagakerjaan dan data sektor jasa, yang dapat menjadi petunjuk arah kebijakan suku bunga The Fed dalam beberapa bulan ke depan.

Sentimen Domestik Ikut Berpengaruh

Dari dalam negeri, tekanan terhadap rupiah juga dipicu oleh meningkatnya inflasi. Inflasi Indonesia pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan, lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang berada di level 0,13 persen.

Kenaikan inflasi tersebut menambah kekhawatiran pasar terhadap stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Meskipun masih dalam kategori terkendali, data tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi sentimen investor terhadap aset berdenominasi rupiah.

Pemerintah Bantah Faktor Fiskal

Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pelemahan rupiah tidak disebabkan oleh kondisi fiskal pemerintah. Menurutnya, pergerakan nilai tukar dalam beberapa hari terakhir lebih banyak dipengaruhi oleh rumor dan sentimen pasar yang berkembang.

Purbaya juga membantah kabar yang menyebut pemerintah meminta perbankan melakukan stress test dengan asumsi rupiah menembus Rp18.000 per dolar AS. Ia menegaskan bahwa pengelolaan stabilitas nilai tukar merupakan kewenangan Bank Indonesia sebagai otoritas moneter.

Pemerintah, kata dia, tetap siap melakukan koordinasi dengan Bank Indonesia apabila diperlukan langkah-langkah tambahan untuk menjaga stabilitas pasar keuangan.

Apa Dampaknya bagi Masyarakat?

Pelemahan rupiah dapat berdampak pada berbagai sektor ekonomi. Barang impor berpotensi menjadi lebih mahal, termasuk bahan baku industri yang masih bergantung pada pasokan luar negeri. Kondisi ini juga dapat meningkatkan biaya operasional perusahaan dan berisiko mendorong kenaikan harga sejumlah produk.

Namun, di sisi lain, pelemahan rupiah dapat memberikan keuntungan bagi sektor ekspor karena produk Indonesia menjadi lebih kompetitif di pasar internasional.

Bagi masyarakat, fluktuasi nilai tukar perlu dicermati terutama bagi yang memiliki kebutuhan dalam mata uang asing, seperti biaya pendidikan luar negeri, perjalanan internasional, atau investasi berbasis dolar AS.

Kesimpulan

Melemahnya rupiah hingga mendekati Rp18.000 per dolar AS merupakan hasil kombinasi berbagai faktor global dan domestik. Ketegangan geopolitik, ekspektasi suku bunga tinggi The Fed, kenaikan harga minyak, serta sentimen inflasi dalam negeri menjadi pendorong utama tekanan terhadap mata uang Garuda.

Ke depan, pergerakan rupiah masih akan sangat dipengaruhi perkembangan ekonomi global dan langkah-langkah yang diambil Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.