Tragedi penyelaman yang menewaskan lima turis Italia di Maladewa masih menyisakan banyak pertanyaan. Meski dua korban, Monica Montefalcone dan putrinya Giorgia Sommacal, telah dimakamkan pada 30 Mei 2026 di Genoa, Italia, penyebab pasti insiden tersebut masih menjadi bahan penyelidikan.
Prosesi pemakaman dihadiri sekitar 2.000 orang yang terdiri dari keluarga, sahabat, mahasiswa, hingga para akademisi. Kehadiran mereka menjadi bukti besarnya penghormatan kepada Montefalcone, seorang peneliti kelautan yang dikenal luas di komunitas ilmiah.
Penyelaman yang Berujung Tragedi
Monica Montefalcone bukanlah penyelam biasa. Selama bertahun-tahun, ia aktif melakukan penelitian bawah laut di Maladewa dan telah menerbitkan puluhan studi ilmiah terkait ekosistem laut negara kepulauan tersebut.
Namun, tragedi terjadi saat ia bersama empat rekannya melakukan penyelaman di sebuah gua bawah laut di Atol Vaavu. Kelompok tersebut dilaporkan menyelam hingga kedalaman sekitar 165 kaki, sebuah level yang menuntut perencanaan matang dan perlengkapan khusus.
Penyelam profesional yang terlibat dalam investigasi mengungkapkan bahwa para korban tidak menggunakan perlengkapan yang ideal untuk penyelaman gua. Meski kedalaman tersebut masih dapat dicapai dengan peralatan rekreasi dalam kondisi tertentu, kombinasi antara kedalaman dan lingkungan gua membuat risiko meningkat drastis.
Kontroversi Izin Penelitian
Pemerintah Maladewa mengakui bahwa tiga dari lima korban memiliki izin resmi untuk melakukan penelitian dan pengambilan sampel karang hingga kedalaman tertentu. Namun, dua korban lainnya tidak tercantum dalam dokumen izin penelitian yang diajukan.
Pernyataan ini memunculkan perdebatan antara pihak universitas, operator kapal, dan otoritas Maladewa. Selain itu, proposal penelitian yang diajukan disebut tidak mencantumkan aktivitas penyelaman gua, sehingga menimbulkan pertanyaan mengenai tujuan sebenarnya dari ekspedisi tersebut.
Dugaan Salah Jalur di Dalam Gua
Temuan terbaru dari tim penyelam Finlandia yang menemukan jasad para korban memberikan petunjuk penting. Mereka menduga kelompok penyelam tersebut tersesat saat berusaha keluar dari sistem gua bawah laut.
Menurut laporan investigasi, gua tersebut memiliki ruang besar yang terhubung dengan beberapa koridor. Salah satu koridor berakhir buntu tanpa jalan keluar. Seluruh korban ditemukan di area tersebut, yang mengindikasikan kemungkinan mereka salah mengidentifikasi jalur keluar saat kondisi gelap dan pasokan udara semakin terbatas.
Para ahli menjelaskan bahwa struktur gua yang kompleks dapat menciptakan ilusi visual. Gundukan pasir di dalam gua bahkan dapat terlihat seperti dinding saat penyelam mencoba kembali ke titik masuk, sehingga meningkatkan risiko kesalahan navigasi.
Banyak Pertanyaan Belum Terjawab
Hingga kini, penyelidikan masih berlangsung untuk mengungkap penyebab pasti tragedi tersebut. Para penyidik berusaha memahami mengapa kelompok yang dipimpin peneliti berpengalaman seperti Monica Montefalcone memutuskan memasuki gua tanpa perlengkapan khusus yang umumnya digunakan dalam penyelaman teknis.
Kasus ini menjadi pengingat bahwa bahkan penyelam berpengalaman sekalipun dapat menghadapi risiko besar ketika memasuki lingkungan bawah laut yang kompleks. Kesalahan kecil dalam perencanaan, navigasi, atau penggunaan peralatan dapat berujung pada konsekuensi fatal.
Sementara keluarga dan kerabat berduka, dunia penyelaman internasional masih menantikan hasil investigasi yang diharapkan mampu menjawab misteri di balik kematian lima turis Italia tersebut.